title: “Aljazair vs Austria: Drama 6 Gol, Dua Gol Injury Time, dan Tuduhan Konspirasi” meta_description: “Laga Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026 berakhir 3-3 dengan dua gol injury time. Hasil ini memicu tuduhan konspirasi mengulang ‘Aib Gijon’ 1982.” tags: [“Piala Dunia 2026”] feature_image: “https://skorbola.web.id/content/images/2026/06/img4-13.jpg”
SkorBola.web.id - Pertandingan pamungkas Grup J Piala Dunia 2026 antara Aljazair dan Austria akan dikenang sebagai salah satu laga paling dramatis sekaligus paling kontroversial dalam sejarah turnamen. Skor akhir 3-3 dengan dua gol di injury time memastikan kedua tim lolos ke babak 32 besar, sementara Iran tersingkir. Tuduhan konspirasi langsung mengemuka, mengingatkan dunia akan “Aib Gijon” dari Piala Dunia 1982.
Empat puluh empat tahun lalu di Spanyol, Jerman Barat mengalahkan Austria 1-0 dalam laga terakhir fase grup yang disepakati menguntungkan keduanya dan menyingkirkan Aljazair. Kali ini perannya terbalik: Aljazair dan Austria bertemu dengan skenario serupa, di mana hasil imbang akan membawa keduanya lolos dengan mengorbankan Iran.
Jalannya pertandingan sangat liar. Austria membuka skor melalui Marko Arnautovic di menit ke-28. Rafik Belghali menyamakan kedudukan tepat sebelum turun minum di menit ke-45. Marcel Sabitzer mengembalikan keunggulan Austria di menit ke-55, namun Riyad Mahrez kembali membuat skor imbang lima menit kemudian.
Drama sesungguhnya terjadi di injury time. Kapten Aljazair Riyad Mahrez mencetak gol keduanya di menit 90+3, sebuah gol yang akan menyingkirkan Austria dan meloloskan Iran. Ribuan penggemar Iran di tribun langsung merayakan. Namun euforia itu berumur pendek.
Hanya berselang tiga menit, Sasa Kalajdzic menyundul bola ke gawang Aljazair untuk menjadikan skor 3-3. Gol di menit 90+6 itu menyelamatkan Austria dari eliminasi dan memastikan kedua tim lolos ke babak 32 besar. Keceriaan para pendukung Iran berubah menjadi tangis kekecewaan.
Para penggemar Iran langsung menuduh adanya kesepakatan di antara kedua tim. Mereka menyerukan FIFA untuk menyelidiki pertandingan ini, menyoroti momen-momen mencurigakan di media sosial: dari postur tubuh pemain bertahan saat gol-gol tertentu hingga kurangnya intensitas di momen-momen krusial. Menurut mereka, skenario 3-3 terlalu sempurna untuk kebetulan belaka.
Namun kedua tim dengan tegas membantah tuduhan tersebut. “Ini sama sekali bukan ‘Aib Gijon’ baru,” tegas perwakilan kedua kubu. “Pertandingan ini penuh intensitas dan enam gol tercipta. Jika Anda bisa mengatur skor seperti itu, berarti Anda penyihir, bukan penipu.” Data statistik menunjukkan kedua tim memang bermain ofensif sepanjang laga.
Benar konspirasi atau sekadar kekacauan sepakbola yang indah, satu hal yang pasti: Aljazair dan Austria akan melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026. Sementara Iran, dengan hati hancur, harus pulang lebih awal dari turnamen yang diimpikan oleh jutaan penggemar mereka di seluruh dunia.
Bagi FIFA, pertandingan ini tentu menjadi catatan penting. Mereka perlu memastikan integritas kompetisi tetap terjaga, terutama dengan format baru yang memungkinkan banyak tim lolos dari setiap grup. Bagi pecinta sepakbola, laga ini mengingatkan bahwa Piala Dunia selalu punya cerita yang tak terduga, baik itu keajaiban nyata di lapangan maupun teori konspirasi yang berputar-putar di media sosial selama bertahun-tahun.