SkorBola.web.id - Piala Dunia 2026 di Amerika Utara menampilkan fenomena yang semakin mengkhawatirkan: turnamen sepak bola terbesar di dunia ini berubah menjadi ajang kultus individu yang mengabaikan kompleksitas permainan tim.
Jurnalis The Guardian, Jonathan Liew, dalam analisanya mengangkat ironi narasi superstar yang justru memperkuat, bukan mengurangi, pentingnya kebersamaan dalam sepak bola. Tulisannya menggugah kesadaran tentang bagaimana media modern membentuk persepsi publik terhadap olahraga ini.
Messi dan Ronaldo Mendominasi Narasi
Cristiano Ronaldo yang tampil di Piala Dunia keenamnya langsung mendominasi berita utama meski Portugal hanya bermain imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo. Reuters menulis laporan pertandingan dengan kalimat pembuka tentang kekecewaan Ronaldo, bukan tentang pencapaian bersejarah negara ke-15 terpadat di dunia tersebut.
“Prancis tidak mengalahkan Irak, melainkan Kylian Mbappe melempar tantangan kepada Erling Haaland, Harry Kane, dan yang lainnya,” tulis Liew menggambarkan bagaimana media membungkus pertandingan dalam narasi individu.
Lihat pula Argentina, di mana keberhasilan tim tersebut bukan sekadar kemenangan kolektif, melainkan dipresentasikan sebagai hadiah untuk Lionel Messi. “Dulu, pencapaian individu memfasilitasi kejayaan tim. Kini hal sebaliknya yang terjadi,” ungkap Liew.
Teknologi dan Siaran Turut Andil
Perubahan ini tidak lepas dari evolusi teknologi siaran. Kamera bergaya sinema yang memburamkan latar belakang dan memfokuskan pada satu objek, potongan kamera ke selebritas di tribun, serta sorotan berkepanjangan pada Presiden FIFA Gianni Infantino, semuanya berkontribusi menciptakan narasi individual.
HVAR, pergantian pemain, dan jeda hidrasi menciptakan momen-momen terputus yang cenderung didefinisikan oleh aksi ledakan individu, bukan pola permainan yang terorganisir. Infantino sendiri digambarkan Liew sebagai sutradara sekaligus bintang dalam filmnya sendiri.
Ironi di Balik Kultus Superstar
Ironinya, kemenangan individu terbesar dalam sejarah Piala Dunia justru lahir dari kekuatan kolektif. Ronaldo di Euro 2016, Mbappe di Piala Dunia 2018, Messi di Piala Dunia 2022, dan Haaland bersama Manchester City, semuanya sukses ketika dikelilingi tim yang lebih besar dari jumlah bagiannya.
Liew juga menyoroti bagaimana pemujaan terhadap Diego Maradona membuat rekan-rekan setimnya di Piala Dunia 1986 seperti Burruchaga, Batista, dan Ruggeri menjadi “beberapa pemain paling diremehkan dalam sejarah Piala Dunia.”
Menuju Pemahaman yang Lebih Dalam
Menurut Liew, melihat sepak bola hanya melalui prisma kultus individu adalah “pembodohan yang disengaja.” Memahami kompleksitas 22 pemain yang berinteraksi, taktik dan hubungan antar pemain, sejarah kolektif, identitas dan trauma bersama memang sulit, tetapi esensial untuk keindahan olahraga ini.
Fenomena ini bahkan meluas ke level pemain non-superstar, seperti kiper Cape Verde Vozinha, pelatih Marcelo Bielsa dengan potretnya yang viral, hingga komentator seperti David Beckham dan Zlatan Ibrahimovic.
“Semakin Anda melihat, semakin banyak yang Anda temukan. Semakin Anda memahami, semakin Anda mencintai. Tapi bagaimana jika Anda sama sekali tidak mau melihat?” tutup Liew.
Piala Dunia 2026 mengingatkan kita bahwa di balik setiap bintang yang bersinar, ada sebelas orang yang bekerja sebagai satu kesatuan untuk menciptakan keajaiban di lapangan.