SkorBola.web.id - Dr Suzanne Huurman membuat sejarah di Piala Dunia 2026 sebagai satu-satunya kepala staf medis perempuan dari 48 tim peserta turnamen. Ia mendampingi timnas Curacao, tim terkecil berdasarkan populasi yang pernah tampil di Piala Dunia.
Dokter berdarah Brasil ini menjadi dokter tim perempuan ketiga sepanjang 96 tahun sejarah Piala Dunia putra. Sebelumnya, Dr Celeste Geertsema mendampingi Selandia Baru di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sementara Dr Silja Schwarz telah menjadi dokter timnas Jerman sejak 2023.
Perjalanan Karier Luar Biasa
Dr Huurman memiliki pengalaman bekerja dengan klub-klub top Eropa termasuk Real Madrid, Go Ahead Eagles, dan PSV Eindhoven. Ia juga pernah menjadi kepala medis timnas Belanda U-16 dan dokter timnas bola tangan putri Belanda.
Sebelum bergabung dengan Curacao, Dr Huurman mendampingi timnas Belanda di Olimpiade Paris 2024. Ia mempelajari ilmu kedokteran di Radboud University Belanda pada 2008-2014 dan menyelesaikan spesialisasi kedokteran olahraga pada 2014.
“Saya tidak menyadari pada awalnya karena sudah sangat biasa menjadi satu-satunya, atau salah satu dari sedikit perempuan di ruangan,” kata Dr Huurman kepada BBC Sport. “Tapi saya berharap akan ada lebih banyak perempuan segera karena ada banyak perempuan di luar sana yang mampu.”
Tantangan sebagai Perempuan di Sepak Bola
Curacao, sebuah pulau Karibia dengan populasi sekitar 158.000 jiwa, adalah bagian dari Kerajaan Belanda. Mereka lolos ke Piala Dunia 2026 tanpa terkalahkan, dengan tujuh kemenangan dan tiga hasil imbang.
Dr Huurman menjelaskan tantangan bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki. “Dengan Curacao, seluruh federasi sepenuhnya laki-laki, tidak ada perempuan, bukan hanya di tim medis tapi di mana pun. Kami bepergian dengan 49 orang, pemain dan staf. Saya satu-satunya perempuan.”
Namun ia menegaskan bahwa kemampuan berbicara. “Jika Anda menunjukkan bahwa Anda mampu dan ahli dalam bidang Anda, maka mudah bagi mereka untuk menerima Anda karena yang dilihat adalah kualitas dan kinerja.”
Hambatan Budaya Kerja
Dr Huurman mengidentifikasi budaya “selalu siap” sebagai hambatan utama bagi perempuan di sepak bola profesional. “Ini bukan hanya soal kemampuan. Jika Anda profesional yang baik, itu satu hal. Tapi ini soal perjalanan, gaya hidup yang bisa mempengaruhi kehidupan pribadi Anda.”
Ia mencontohkan sistem rotasi di Swedia yang memungkinkan beberapa dokter bergantian bertugas, pendekatan kerja fleksibel yang mungkin lebih cocok bagi dokter perempuan.
Momen Bersejarah di Lapangan
Dalam pertandingan Curacao melawan Jerman, untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia putra, terdapat tim medis yang seluruhnya terdiri dari perempuan. FIFA match doctor Dr Emma Lunan, Dr Huurman, Dr Silja Schwarz, dokter gawat darurat Dr Carrie Bakunas, dan Dr Kerry Peek bertugas bersama.
FIFA juga memperkenalkan regulasi baru pada 2026 yang mewajibkan minimal satu anggota staf medis perempuan dan satu pelatih perempuan di turnamen putri. Langkah ini diharapkan menjadi pemicu perubahan di level putra juga.
“Ini adalah batu loncatan untuk menunjukkan bahwa keahlian dalam kedokteran olahraga dan kedokteran performa tidak bergantung pada jenis kelamin,” kata Dr Lunan.