SkorBola.web.id - Jalur menuju babak knockout Piala Dunia 2026 mulai terlihat jelas saat putaran terakhir fase grup bergulir. Dengan format 48 tim yang diterapkan FIFA untuk pertama kalinya, sistem kualifikasi dan tiebreaker menjadi faktor penentu yang kompleks dan kontroversial.
Dari 48 tim yang berpartisipasi, hanya 32 yang akan melaju ke babak 32 besar. Dua tim teratas dari masing-masing 12 grup otomatis lolos, sementara delapan tim peringkat ketiga terbaik mengisi sisa kuota. Proyeksi terkini menunjukkan Inggris yang memimpin Grup L berpotensi menghadapi Skotlandia yang berada di peringkat ketiga Grup C dalam laga 16 besar di Meksiko City pada 6 Juli mendatang. Namun proyeksi ini masih bisa berubah tergantung hasil pertandingan terakhir grup.
Sistem tiebreaker yang diterapkan FIFA memiliki urutan yang jelas. Jika tim memiliki poin sama, pertimbangan pertama adalah rekor head-to-head di antara tim-tim yang imbang. Setelah itu, selisih gol menjadi penentu kedua, diikuti jumlah gol yang dicetak. Jika masih imbang, FIFA Team Conduct Score yang menilai kartu merah dan kuning menjadi faktor keempat, dan ranking FIFA versi Juni menjadi penentu terakhir.
Keputusan FIFA mempertahankan delapan slot tim peringkat ketiga terbaik menuai kritik dari berbagai kalangan. Situasi ini menciptakan skenario di mana tim yang bermain imbang di pertandingan terakhir bisa sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Dua pertandingan yang menjadi sorotan adalah Australia melawan Paraguay di Grup D dan Austria melawan Algeria di Grup J.
Kedua pertandingan tersebut dimainkan dengan pengetahuan penuh tentang hasil-hasil dari grup lain. Austria versus Algeria menjadi pertandingan terakhir fase grup secara keseluruhan, sehingga kedua tim akan mengetahui persis hasil yang dibutuhkan untuk melaju. Ironisnya, Algeria yang pernah menjadi korban kolusi di Piala Dunia 1982 dalam pertandingan yang dikenal sebagai “Kehinaan Gijon” kini berada dalam posisi yang bisa mendapat keuntungan dari hasil imbang taktis.
Selain insentif untuk bermain imbang, format ini juga memunculkan kemungkinan tim yang sengaja ingin kalah untuk mendapatkan jalur knockout yang lebih mudah. Sebagai contoh, peringkat kedua Grup J akan menghadapi juara Grup H yang mungkin Spanyol, sementara peringkat ketiga menghadapi juara Grup L yang bisa Inggris atau Swiss. Secara strategis, jalur kedua jauh lebih menguntungkan.
Kelemahan lain dari format ini adalah aturan cuaca. Jika pertandingan dihentikan karena badai atau petir, pertandingan lain dalam grup yang sama tetap dilanjutkan. Tim yang tertunda akan bermain mengetahui hasil pasti dari pertandingan lain, membuka celah manipulasi skor yang sulit diawasi.
Format 48 tim memang sudah ditetapkan sejak kampanye Gianni Infantino terpilih menjadi presiden FIFA pada 2016. Banyak pihak berharap Infantino akan mengembalikan turnamen ke angka yang lebih ideal, bukan kembali ke 32, melainkan diperluas ke 64 tim untuk menghilangkan berbagai kelemahan struktural yang terlihat saat ini.