SkorBola.web.id - Format baru Piala Dunia 2026 memunculkan kekhawatiran serius terkait keadilan kompetisi di fase grup. Dengan delapan tim yang sudah dipastikan nasibnya sebelum laga terakhir, muncul pertanyaan besar apakah perubahan aturan oleh FIFA justru merusak daya saing turnamen.
Aturan Baru yang Menuai Kritik
Perubahan utama Piala Dunia 2026 adalah penggunaan head-to-head sebagai penentu posisi utama di klasemen, menggantikan selisih gol seperti di turnamen sebelumnya. Selain itu, untuk pertama kalinya sejak 1994, format juara ketiga terbaik kembali diterapkan. Dari 12 grup, delapan tim peringkat ketiga terbaik akan lolos ke babak 32 besar.
Dampak aturan ini sudah terlihat nyata. Delapan tim sudah mengetahui nasib mereka (sebagai juara grup atau sudah tersingkir) sebelum laga terakhir fase grup. Angka ini lebih banyak dibandingkan gabungan tiga edisi terakhir Piala Eropa (2016, 2020, 2024) yang hanya menghasilkan tujuh tim dalam situasi serupa.
Ancaman “Pertandingan Mati”
Konsekuensi terbesarnya adalah maraknya pertandingan tanpa makna kompetitif. Argentina, misalnya, sudah mengamankan posisi juara Grup J dengan enam poin. Jordan sudah dipastikan tersingkir. Pertandingan antara keduanya kehilangan tensi.
Yang lebih mengkhawatirkan, tim yang sudah lolos seperti Argentina dan Jerman kemungkinan besar akan memainkan pemain cadangan untuk menjaga kebugaran menjelang babak gugur. Hal ini bisa merugikan tim lain yang masih berjuang.
“Di turnamen seintensif ini, godaan untuk memainkan pemain cadangan sangat besar. Lionel Messi bisa jadi akan diistirahatkan,” tulis BBC Sport.
Ketidakadilan Waktu
Masalah lain muncul dari penyebaran laga terakhir fase grup selama lima tim. Tim yang bermain lebih awal, seperti Skotlandia yang menghadapi Brasil pada Rabu, berada dalam posisi tidak menguntungkan karena tidak mengetahui poin minimum yang dibutuhkan untuk lolos sebagai tim peringkat ketiga terbaik.
Sebaliknya, tim yang bermain di hari terakhir akan mengetahui dengan pasti hasil yang dibutuhkan untuk lolos. “Jika Anda bermain di akhir pekan, Anda tahu persis hasil apa yang diperlukan untuk lolos,” jelas analisis BBC.
Situasi ini membuka potensi koordinasi antar tim yang ethically questionable, mirip insiden “Aib Gijon” di Piala Dunia 1982. Sebagai contoh, di Grup J, Aljazair dan Austria sama-sama mengoleksi tiga poin menjelang laga terakhir. Jika kedua tim mengetahui hasil imbang akan mengirim keduanya lolos, mereka berpotensi bermain tanpa motivasi penuh.
Perbandingan dengan Turnamen Sebelumnya
Data menunjukkan format baru ini lebih cepat mengeliminasi tim dibanding sistem sebelumnya. Di Piala Dunia 2022 dengan sistem selisih gol, hanya dua tim yang tersingkir setelah dua ronde. Kini, aturan head-to-head mempercepat proses eliminasi secara signifikan.
Scotland menjadi contoh nyata. Berada di posisi ketiga Grup C dengan tiga poin, mereka menghadapi dilemma: kemenangan bisa mengamankan tiket, namun kekalahan besar dari Brasil bisa mengeliminasi mereka meski sudah meraih tiga kemenangan di fase grup.
Harapan ke Depan
Meski kritik mengalir, format ini tidak tanpa keuntungan. Ketidakpastian hasil di fase grup menciptakan kejutan yang membuat turnamen tetap menarik. Namun pertanyaannya tetap: apakah kepentingan kompetisi sudah dikorbankan demi jadwal siaran dan keuntungan komersial?
FIFA belum memberikan respons resmi terkait kritik ini. Namun tekanan dari pelatih dan analis kemungkinan akan memaksa badan sepak bola dunia itu mempertimbangkan revisi untuk turnamen mendatang.