SkorBola.web.id - Jerman telah lolos ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah menjuarai Grup E dengan dua kemenangan dan satu kekalahan. Namun kemenangan 7-1 atas Curaçao dan kemenangan tipis lawan Swedia tidak bisa menutupi kekhawatiran. Kekalahan 1-2 kontra Ekuador di laga terakhir fase grup memunculkan pertanyaan serius tentang identitas tim yang kini dilatih Julian Nagelsmann.
Perdebatan setelah pertandingan Ekuador mengungkapkan ketidakseimbangan internal. Nagelsmann memprotes interviewer yang menyarankan Ekuador “lebih menginginkan kemenangan”, namun dua pemain senior - Joshua Kimmich dan Deniz Undav - justru setuju dengan analisis tersebut. Kimmich menyatakan: “Perbedaan hari ini adalah lawan lebih ingin menang dari kita.” Undav menambah: “Aku merasa mereka menginginkannya lebih dari kita.”
Kecurigaan ini bukan insiden terisolasi, melainkan sintom dari tekanan luar yang memicu ketidakstabilan internal. Setengah dari tim pemenang Piala Dunia 2014 kini bekerja sebagai pundit media Jerman: Thomas Müller dan Mats Hummels di Magenta, Per Mertesacker dan Christoph Kramer di ZDF, Bastian Schweinsteiger di ARD, Philipp Lahm menulis kolom tajam di Die Zeit, dan Toni Kroos sering memberi komentar di media sosial.
Yang paling menonjol adalah kehadiran Jürgen Klopp. Mantan pelatih Liverpool dan Borussia Dortmund hadir di setiap putaran turnamen sebagai analis TV, brand ambassador, dan sosok yang terus dikaitkan dengan masa depan pelatihan timnas Jerman. Ia sempat minta maaf ke Nagelsmann awal turnamen setelah terlambat mengoreksi ucapan soal “Nagelsmann pelatih untuk sementara”. Dijelang babak gugur, rumor soal Klopp menggantikan Nagelsmann semakin kencang.
Nagelsmann sendiri memiliki rekaman bagus: lolos fase grup Piala Dunia pertama kali sejak 2014. Tim Jerman memiliki kedalaman squad yang mengesankan, ditunjukkan lewat kemenangan gemilang 7-1. Masalahnya, tim ini tampak bermain di atas “beberapa bidang yang berbeda”, sebagaimana diungkapkan Jonathan Liew di The Guardian. Ada noise terus-menerus dari luar (pundit-pundit legenda 2014) dan ketidakseimbangan di dalam (pemain senior yang tidak sependapat dengan pelatih).
Di babak 32 besar, Jerman akan menghadapi Prancis atau Portugal tergantung hasil laga mereka. Jika lolos, babak 16 besar bisa mempertemukan mereka dengan Belanda atau Maroko. Jalur ini penuh rintangan bagi tim yang masih mencari identitas.
Jerman memiliki bakat individu yang luar biasa: Florian Wirtz, Jamal Musiala, Kai Havertz, Leroy Sané, dan Joshua Kimmich. Tapi sepak bola modern membutuhkan kohesi, bukan sekadar kumpulan bintang. Nagelsmann harus menyelesaikan perselisihan internal, menetralisir gangguan eksternal, dan menemukan sistem yang memaksimalkan potensi kolektif sebelum menghadapi lawan-lawang elit di fase gugur.
Sejarah membuktikan Jerman paling berbahaya saat diabaikan. Setelah kegagalan 2018 dan 2022, tekanan untuk bangkit sangat besar. Apakah tim ini mampu mengubah kecemasan menjadi fokus, atau justru runtuh di bawah beban ekspektasi? Babak gugur akan memberikan jawabannya.