SkorBola.web.id - Bintang timnas Jerman dan Arsenal, Kai Havertz, buka suara tentang perannya yang kerap disalahpahami di lapangan, gaya bermain yang tak lazim, dan misi besar Die Mannschaft di Piala Dunia 2026.
Dalam wawancara eksklusif dari markas latihan Jerman di Winston, North Carolina, Havertz mengungkapkan filosofi bermain yang menjadi kunci keberhasilannya. Pemain berusia 27 tahun ini mengakui bahwa pergerakannya sering kali dianggap tidak berguna oleh penonton, namun sebenarnya memiliki tujuan taktis yang penting.
“Saya membuat pergerakan yang kadang terlihat sia-sia, tapi saya sedang menciptakan ruang bagi pemain di belakang saya,” ujar Havertz. “Bek lawan seharusnya tidak pernah tahu di mana saya berada, ke mana saya akan pergi, atau apa yang sedang saya rencanakan. Saya mencoba menjadi seperti hantu bagi mereka.”
Bangkit Setelah Kegagalan Beruntun
Havertz menegaskan bahwa skuad Jerman era Julian Nagelsmann memiliki energi yang sangat berbeda dibandingkan kegagalan di dua Piala Dunia sebelumnya. Jerman yang tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022 kini tampil dominan dengan memuncaki Grup E setelah mengalahkan Curacao dan Pantai Gading.
“Kami tahu kami punya tanggung jawab untuk tidak gagal lebih awal lagi. Kami adalah Jerman. Tapi sekarang turnamen baru benar-benar dimulai,” tegasnya.
Cedera dan Motivasi
Musim 2025/26 menjadi periode berat bagi Havertz yang mengalami cedera lutut dan hamstring. Namun performanya di Piala Dunia 2026, termasuk gol penalti dan tendangan chip saat melawan Curacao, menunjukkan bahwa ia sudah kembali ke performa terbaik.
Menariknya, Havertz juga menceritakan pengalaman emosionalnya usai kekalahan Arsenal di final Liga Champions melawan PSG di Budapest. Meski kalah, parade trofi yang disambut hangat oleh fans Arsenal di Islington menjadi salah satu pengalaman terbaiknya sebagai pemain profesional.
“Saya harus mengatakan bahwa saya belum pernah mengalami yang seperti itu. Itu termasuk dalam tiga pengalaman terbaik saya sebagai profesional,” kenangnya.
Persiapan Hadapi Babak Gugur
Dengan 24 gol dari 60 caps bersama timnas, Havertz menjadi pilihan utama Nagelsmann sebagai penyerang tengah. Ia menyatakan kesiapan bermain di posisi mana pun jika dibutuhkan, mengingat pengalaman masa mudanya sebagai winger di Bayer Leverkusen hingga bek kiri dalam laga persahabatan melawan Turki, di mana ia langsung mencetak gol di menit kelima.
Havertz juga mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap narasi media di Jerman yang kerap mengkritiknya secara berlebihan. “Saat saya tidak mencetak gol, saya dianggap tidak berguna. Saat saya mencetak gol, mereka bilang sudah waktunya,” keluhnya.
Potensi Lawan di Babak 32 Besar
Jerman kini menatap babak 32 besar dengan potensi pertemuan melawan Prancis, salah satu favorit turnamen. Havertz dan rekan setimnya akan menjalani pertandingan lanjutan dengan penuh kepercayaan diri.
“Kami memancarkan kegembiraan bermain. Kami bergerak banyak, bermain ofensif, dan menciptakan peluang gol. Kami bangkit setelah kebobolan,” pungkasnya optimis. Piala Dunia 2026 mungkin menjadi ajang pembuktian bagi Havertz bahwa ia layak dihargai lebih dari sekadar penampilan fisiknya.