SkorBola.web.id - Bintang Jerman Kai Havertz mengungkapkan filosofi bermain uniknya di Piala Dunia 2026, mengaku sering berlari yang terlihat sia-sia padahal sebenarnya sedang menciptakan ruang bagi rekan-rekannya.
Dalam wawancara eksklusif dari markas latihan Jerman di Winston, North Carolina, penyerang berusia 27 tahun itu menceritakan berbagai hal, mulai dari kegagalan di final Liga Champions bersama Arsenal hingga ambisinya mengantarkan Der Panzer meraih trofi Piala Dunia pertama sejak 2014.
Misi Balas Dendam Jerman
Jerman berhasil memenangkan Grup E setelah mengalahkan Curacao dan Pantai Gading, mengakhiri kutukan tersingkir di fase grup yang mereka alami pada 2018 dan 2022. Havertz mengatakan ada energi berbeda di skuad kali ini.
“Ada energi yang berbeda di skuad kami sekarang. Kami memancarkan kegembiraan nyata saat bermain. Kami banyak bergerak, bermain ofensif, dan menciptakan peluang gol. Kami juga bangkit setelah kebobolan,” ujar Havertz.
Jerman kini mengincar gelar juara dunia kelima mereka dan bisa menghadapi Prancis di babak 16 besar, sebuah pertandingan yang pasti akan menjadi salah satu laga paling seru di turnamen ini.
Filosofi “Hantu” di Lini Depan
Yang menarik dari wawancara ini adalah ketika Havertz menjelaskan permainannya yang sering disalahpahami oleh publik. Dia membuat pergerakan yang terlihat tidak berguna bagi penonton biasa, padahal itu adalah kunci taktik.
“Saya berlari yang kadang terlihat sia-sia, tapi saya sedang menciptakan ruang bagi pemain di belakang saya,” jelas Havertz. “Saya mencoba menjadi seperti hantu bagi bek lawan. Bek tidak boleh tahu di mana saya, ke mana saya pergi, apa yang saya rencanakan. Itulah hal terburuk bagi mereka.”
Filosofi ini menjelaskan mengapa Havertz, yang dimulai sebagai pemain sayap, bermain di gelandang, dan kini menjadi penyerang, sering mendapat kritik dari penggemar Jerman yang menganggap kontribusinya tidak terlihat di statistik.
Kegagalan di Final Liga Champions
Havertz juga bercerita tentang momen menyakitkan ketika Arsenal kalah adu penalti dari PSG di final Liga Champions di Budapest. Meski mencetak gol lebih dulu, The Gunners akhirnya harus puas menjadi runner-up.
Namun, Havertz mengungkapkan keputusan mengejutkan setelah kekalahan tersebut. “Awalnya saya ingin membatalkan parade trofi Liga Premier karena kami baru saja kalah. Tapi saya berubah pikiran. Itu masuk dalam tiga pengalaman terbaik karier profesional saya. Begitu banyak orang di jalanan. Klub sudah 22 tahun tanpa gelar liga, jadi itu harus dirayakan.”
Kritik dan Mentalitas
Pemain yang telah mencetak 24 gol dalam 60 caps untuk Jerman ini juga menyinggung soal kritik yang sering ia terima di Jerman. Menurutnya, bermain di Liga Premier membuatnya kurang dihargai, sama seperti Toni Kroos dan Ilkay Guendogan sebelumnya.
“Sering dikatakan tentang saya: ‘Havertz tidak cetak gol lagi, dia tidak berguna!’ Dan ketika saya cetak gol, mereka bilang: ‘Ya seharusnya begitu, sudah waktunya!’,” keluh Havertz dengan nada bercanda.
Di Piala Dunia 2026 ini, Havertz sudah mencetak dua gol, masing-masing dari titik penalti dan chip finish melawan Curacao. Dengan Jerman yang melaju penuh percaya diri, peran Havertz sebagai “hantu” di lini depan bisa menjadi kunci keberhasilan mereka di turnamen ini.