SkorBola.web.id - Format 48 tim Piala Dunia 2026 kembali mendapat sorotan tajam setelah sejumlah pertandingan fase grup berakhir imbang dengan skor 0-0. Kritik terhadap format yang memperbolehkan delapan tim peringkat ketiga terbaik lolos ke babak 32 besar semakin mengeras, karena mengurangi taruhan eliminasi yang seharusnya membuat turnamen lebih kompetitif.
Dengan 12 grup yang masing-masing terdiri dari empat tim, dua tim teratas lolos otomatis disertai delapan peringkat ketiga terbaik. Artinya, dari 48 tim yang bertanding, sebanyak 40 tim lolos ke babak gugur. Perbandingan ini sangat kontras dengan format sebelumnya di mana hanya 32 dari 32 tim yang melaju.
Fenomena ini terlihat jelas dalam dua pertandingan kunci: Australia melawan Paraguay di Grup D, dan Austria melawan Aljazair di Grup J. Kedua laga mempertemukan tim peringkat kedua dan ketiga yang masing-masing sudah mengoleksi tiga poin. Hasil imbang akan menguntungkan kedua tim, karena empat poin hampir pasti cukup untuk lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.
Kekhawatiran akan permainan yang tidak fair bukan tanpa dasar. Sejarah Piala Dunia mencatat beberapa insiden kontroversial serupa. Pada Piala Dunia 1982, yang dikenal sebagai “Aib Gijon”, Jerman Barat dan Austria bermain dengan skor 1-0 yang mengeliminasi Aljazair. Insiden ini mendorong FIFA menjadwalkan pertandingan grup terakhir secara bersamaan.
Di Euro 2004, Swedia dan Denmark bermain imbang 2-2 yang membuat Italia tersingkir. Meski UEFA tidak menemukan bukti kecurangan, tuduhan pengaturan skor tetap mengemuka. Namun tidak semua kasus serupa berujung skandal. Di Euro 2020, Ukraina dan Austria berada dalam situasi serupa tetapi bermain dengan sportif.
Keunikan format 48 tim ini adalah keuntungan bagi tim yang bertanding di hari terakhir. Mereka akan tahu persis hasil apa yang dibutuhkan untuk lolos sebagai peringkat ketiga. Situasi ini bisa dimanipulasi secara strategis, bahkan ada kemungkinan tim sengaja finis di peringkat ketiga untuk mendapatkan bracket yang lebih menguntungkan di babak gugur.
Faktor cuaca juga menambah kompleksitas. Aturan FIFA menyebutkan bahwa jika satu pertandingan di grup ditangguhkan (misalnya karena petir), pertandingan lain di grup yang sama tetap dilanjutkan. Ini bisa memberikan keuntungan informasi bagi tim yang masih bermain.
Perdebatan tentang format 48 tim ini sejalan dengan visi Presiden FIFA Gianni Infantino yang menginginkan turnamen lebih inklusif. Namun, format ini justru menghadirkan dilema. Di satu sisi, lebih banyak tim dari berbagai konfederasi mendapat kesempatan tampil di panggung dunia. Di sisi lain, kompetitifitas turnamen berkurang signifikan karena terlalu banyak tim yang lolos.
Ironisnya, masalah format ini bisa menjadi alasan bagi Infantino untuk mendorong ekspansi lebih lanjut ke 64 tim, yang dianggap sebagai “angka sempurna” untuk turnamen. Jika ini terjadi, Piala Dunia 2038 yang kemungkinan digelar di AS mungkin akan menggunakan format tersebut.
Bagi penonton Indonesia, format baru ini setidaknya memberikan harapan bahwa Timnas Garuda di masa depan punya peluang lebih besar untuk tampil di Piala Dunia meski kualitas belum sejajar dengan kekuatan sepak bola dunia.