SkorBola.web.id - Piala Dunia 2026 menunjukkan kelemahan fatal format 48 tim yang diterapkan FIFA. Pada fase grup, pertandingan-pertandingan tertentu mengungkap bahaya taktis yang sebelumnya diprediksi banyak pihak ketika FIFA memutuskan memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim.
Salah satu masalah utamanya adalah minimnya ketegangan di fase grup. Dari 48 tim yang berpartisipasi, 32 akan melaju ke babak selanjutnya. Artinya, delapan dari 12 tim peringkat ketiga otomatis lolos. Dalam format lama dengan 32 tim, posisi ketiga berarti eliminasi. Kini, tim yang kalah pun masih memiliki peluang besar untuk lanjut. Hal ini secara fundamental mengubah tekanan dan intensitas setiap pertandingan grup.
Studi kasusnya terlihat dari Korea Selatan yang mengumpulkan tiga poin dengan selisih gol minus satu setelah kalah dari Afrika Selatan. Di format 2022, mereka pasti tersingkir. Di format 2026, mereka kemungkinan besar tetap melaju sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Hal ini membuat pertandingan Korea Selatan melawan lawan berikutnya menjadi kurang krusial karena mereka sudah hampir dipastikan lolos.
Kelemahan kedua adalah insentif untuk bermain imbang. Ketika dua tim yang berada di posisi kedua dan ketiga dengan poin sama bertemu di pertandingan terakhir grup, hasil imbang menguntungkan kedua belah pihak. Empat poin total dari hasil imbang hampir menjamin slot sebagai peringkat ketiga terbaik. Peluang taruhan untuk hasil imbang pada pertandingan-pertandingan seperti ini mendekati genap, jauh lebih rendah dari biasanya yang bisa mencapai 3 banding 1 atau 4 banding 1 untuk pertandingan tanpa kepentingan.
Kelemahan ketiga bahkan lebih mengkhawatirkan. Tim bisa jadi lebih memilih untuk kalah dibandingkan menang, tergantung jalur knockout yang diinginkan. Sebagai contoh, peringkat kedua Grup J akan menghadapi pemenang Grup H yang kemungkinan besar Spanyol. Sementara itu, peringkat ketiga Grup J menghadapi pemenang Grup L yang bisa Inggris atau Swiss. Secara logika, jalur lebih ringan jelas lebih menguntungkan untuk melangkah lebih jauh.
Kelemahan keempat berkaitan dengan cuaca. FIFA memiliki aturan yang kontroversial bahwa jika pertandingan dihentikan karena badai atau petir, pertandingan lain dalam grup yang sama tetap berjalan. Tim yang pertandingannya terhenti akan bermain mengetahui hasil pasti dari pertandingan lainnya, memungkinkan mereka menghitung dengan tepat skor yang dibutuhkan.
Sejarah kolusi sepak bola sudah cukup untuk membuat FIFA waspada. Piala Dunia 1982 menyaksikan “Kehinaan Gijon” ketika Jerman Barat mengalahkan Austria 1-0 untuk mengeliminasi Algeria. Peristiwa itu mendorong penerapan aturan kick-off bersamaan untuk pertandingan terakhir grup. Sayangnya, format 48 tim saat ini menciptakan celah-celah baru yang tidak terantisipasi.
Banyak pengamat sepak bola berpendapat Piala Dunia tidak perlu diperluas. Namun perluasan menjadi bagian dari manifesto kampanye Gianni Infantino saat terpilih sebagai presiden FIFA pada 2016. Beberapa pihak berharap Infantino akan mempertimbangkan kembali format ini, dan solusi yang paling elegan adalah bukan mengurangi menjadi 32, melainkan meningkatkan menjadi 64 tim untuk menghilangkan masalah-masalah struktural yang terlihat saat ini.