SkorBola.web.id - Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim menghadapi kritik tajam menjelang matchday terakhir fase grup. Sejumlah analis dan jurnalis sepak bola internasional menyoroti kelemahan fundamental dari format turnamen terbesar dalam sejarah Piala Dunia ini.
Lebih Mudah Lolos daripada Tersingkir
Masalah utama dari format 48 tim adalah aturan delapan tim peringkat ketiga terbaik yang otomatis lolos ke babak 32 besar. Dari total 12 grup, hanya empat tim peringkat ketiga yang tersingkir. Artinya, tim lebih sulit tersingkir daripada lolos.
BBC Sport mencatat bahwa diperlukan 72 pertandingan untuk mengurangi jumlah tim dari 48 menjadi 32. “Jumlah tim peringkat ketiga yang harus melaju menjadi delapan, membuat tim lebih sulit tersingkir daripada lolos ke babak selanjutnya,” demikian analisis yang dilaporkan.
Ancaman Kolusi di Dua Pertandingan Kunci
Dua pertandingan yang mendapat sorotan tajam adalah Australia vs Paraguay di Grup D dan Austria vs Aljazair di Grup J. Kedua pasangan ini berada di posisi kedua dan ketiga dengan tiga poin. Empat poin hampir dipastikan cukup untuk aman sebagai peringkat ketiga terbaik.
Karena grup diselesaikan pada waktu yang berbeda, tim-tim di pertandingan ini akan mengetahui apakah empat poin sudah cukup saat mereka bermain. Bandar taruhan sudah mencermati hal ini. Peluang imbang di Australia-Paraguay dan Austria-Aljazair mendekati “even money” (1:1), jauh berbeda dengan pertandingan lain yang berkisar 3:1 atau 4:1.
Memori “Kecelakaan Gijon” 1982
Kekhawatiran ini mengingatkan pada insiden “Kecelakaan Gijon” di Piala Dunia 1982 saat Jerman Barat dan Austria memainkan pertandingan yang dianggap kolusi. Kedua tim sudah mengetahui hasil pertandingan lain dan bermain dengan skenario yang menguntungkan kedua pihak. Insiden tersebut mengubah format Piala Dunia selama puluhan tahun.
Strategi Menguntungkan: Kalah untuk Menang
Yang lebih mengejutkan, beberapa analis menyebutkan bahwa Austria atau Aljazair bahkan bisa mempertimbangkan untuk kalah agar mendapatkan jalur yang lebih menguntungkan di babak 32 besar. Finis ketiga bisa jadi lebih menguntungkan daripada finis kedua karena memberikan lawan yang lebih mudah di babak selanjutnya.
Jadwal Tidak Simetris
Kompleksitas tambahan muncul dari jadwal yang tidak simetris. Tim yang bermain lebih akhir memiliki lebih banyak information tentang jalur knockout, yang berpotensi mempengaruhi pendekatan mereka. FIFA juga memiliki aturan bahwa jika sebuah pertandingan dihentikan karena cuaca, pertandingan grup lainnya yang dimainkan secara bersamaan tetap berlanjut.
Solusi: 64 Tim?
Menariknya, analisis ini membuka spekulasi tentang kemungkinan FIFA mempertimbangkan ekspansi menjadi 64 tim di masa depan. 64 adalah angka simetris yang sempurna untuk sistem gugur, dan bisa menghilangkan masalah ini. Namun, hal itu justru bisa memperparah masalah kualitas dan kepadatan jadwal.
Format Piala Dunia 2026 ini pada akhirnya memunculkan pertanyaan fundamental: apakah ekspansi dilakukan demi kepentingan olahraga atau kepentingan politis terkait pemilihan presiden FIFA?