SkorBola.web.id - Piala Dunia 2026 bukan hanya ajang pertunjukan bakat sepak bola terbaik dunia, tetapi juga panggung bagi kisah-kisah inspiratif para pemain yang memiliki latar belakang pengungsi. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengkampanyekan tim simbolis “Game-Changing Team” yang menampilkan para bintang sepak bola berlatar belakang pengungsi.
Salah satu kisah paling menyentuh datang dari bek Timnas Jerman dan Real Madrid, Antonio Rudiger. Keluarganya melarikan diri dari perang saudara di Sierra Leone menuju Jerman. Rudiger lahir dan besar di sebuah pusat pengungsi di Berlin.
Kisah pamannya yang menyembunyikan keponakan-keponakannya dalam karung beras saat melarikan diri dari pemberontak menjadi pengalaman traumatis yang membentuk karakter Rudiger. “Kakak saya bersembunyi di dalam karung beras agar tidak tertembak atau diculik,” ungkap Rudiger.
Pengalaman masa kecil tersebut memberikan dampak besar pada karier Rudiger. “Itu sangat mempengaruhi saya karena dalam hidup tidak ada yang diberikan secara cuma-cuma. Anda harus bekerja keras untuk meraih sesuatu,” tambahnya.
Alphonso Davies, kapten Timnas Kanada dan Duta Niat Baik UNHCR, juga memiliki kisah serupa. Orang tuanya melarikan diri dari Liberia menuju kamp pengungsi di Ghana sebelum akhirnya menetap di Kanada. “Kanada sangat berarti bagi saya. Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka,” kata Davies.
Di Piala Dunia 2026, Kanada menjadi salah satu tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko. Kehadiran Davies sebagai kapten di turnamen kandang sendiri menjadi simbol harapan bagi jutaan pengungsi di seluruh dunia.
Nestory Irankunda dari Australia juga menarik perhatian. Pemain berusia 20 tahun yang lahir atau besar di kamp pengungsi Afrika tersebut menjadi pencetak gol termuda Australia di Piala Dunia. Penampilannya yang gemilang melawan Turki menunjukkan bakat luar biasa yang dimilikinya.
Kisah-kisah inspiratif lainnya datang dari Eduardo Camavinga (Prancis/Real Madrid) yang orang tuanya melarikan diri dari Angola, Victor Moses (Nigeria) yang orang tuanya menetap di Inggris, dan Ali Al-Hamadi (Irak) yang keluarganya melarikan diri setelah ayahnya dipenjara.
UNHCR memperkirakan terdapat 48,8 juta anak-anak yang mengungsi di seluruh dunia. Melalui kampanye ini, mereka ingin menunjukkan “apa yang mungkin terjadi ketika anak-anak muda yang terlantar akibat perang dan penganiayaan menemukan keselamatan, kesempatan, dan sambutan hangat.”
Namun, kisah-kisah ini juga kontras dengan kebijakan pengungsi di negara tuan rumah Piala Dunia. Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump memangkas jumlah pengungsi yang diterima menjadi hanya 7.500 per tahun, sementara Kanada justru meningkatkan penerimaan pengungsi dari 9.972 klaim pada 2016 menjadi 50.067 klaim pada 2025.
Rudiger menyuarakan keprihatinannya tentang perubahan narasi global terhadap pengungsi. “Narasi semakin mengarah pada menyalahkan pengungsi. Anda tidak bisa menyamaratakan semua orang, karena itu tidak adil. Ada orang-orang yang datang ke sini dan benar-benar ingin mengubah hidup mereka,” tegasnya.
Para bintang sepak bola berlatar belakang pengungsi ini diharapkan dapat mengubah persepsi publik dan mengingatkan dunia tentang nilai historis menyambut mereka yang terlantar.