SkorBola.web.id - Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para bintang sepak bola dunia, tetapi juga menjadi inspirasi bagi jutaan pengungsi di seluruh dunia. Beberapa pemain yang tampil di turnamen ini memiliki latar belakang sebagai pengungsi, dan kisah perjuangan mereka menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bisa mengubah nasib.
Antonio Rudiger, bek tengah Jerman dan Real Madrid, adalah salah satu contoh paling menyentuh. Keluarganya melarikan diri dari perang saudara di Sierra Leone, di mana pamannya harus menyembunyikan keponakannya di dalam karung beras selama perjalanan berbahaya sejauh 340 kilometer dari Kono ke Freetown. Mereka bahkan harus berpura-pura mati untuk menghindari para pemberontak. Rudiger dibesarkan di pusat pengungsi Jerman, pengalaman yang mengajarkannya tentang pengorbanan dan kerja keras.
“Hanya ada satu keputusan untuk keluar dari sana,” kenang Rudiger. “Saya berbicara berkali-kali dengan saudara saya tentang itu, dan dia menceritakan kisah-kisah tentang apa yang dia lihat di sana. Saatnya untuk meninggikan suara bagi para pengungsi.”
Alphonso Davies, kapten Kanada yang menjadi tuan rumah bersama, menghabiskan tahun-tahun awalnya di kamp pengungsi Ghana setelah orang tuanya melarikan diri dari perang saudara Liberia. “Kanada sangat berarti bagi saya,” kata Davies. “Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka. Mereka memberi saya kesempatan untuk menjadi diri saya sendiri.”
Australia juga memiliki tiga pemain dengan latar belakang pengungsi: Nestory Irankunda, Mohamed Toure, dan Awer Mabil. Irankunda bahkan menjadi pencetak gol termuda Australia di Piala Dunia pada usia 20 tahun saat timnasnya mengalahkan Turki 2-0. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa bakat bisa berkembang di mana pun, bahkan di kamp pengungsi.
Kampanye UNHCR “Game-Changing Team” menampilkan tim simbolis para pemain pengungsi untuk mendemonstrasikan apa yang mungkin terjadi ketika kaum muda yang terlindas perang dan penganiayaan menemukan keselamatan, kesempatan, dan sambutan. Saat ini, diperkirakan 48,8 juta anak di seluruh dunia mengungsi dari rumah mereka.
Namun, kisah-kisah inspiratif ini juga menyoroti kontradiksi dalam kebijakan global. Amerika Serikat, tuan rumah Piala Dunia 2026, telah menangguhkan Program Penerimaan Pengungsi AS pada awal 2025 dan hanya menerima 7.500 pengungsi pada tahun fiskal saat ini. Padahal, di bawah Presiden Biden, 100.034 pengungsi diterima, termasuk 34.017 dari Afrika.
“Saya tidak bisa menggeneralisasi semua orang, karena itu tidak adil,” kata Rudiger tentang narasi negatif terhadap pengungsi. “Anda punya orang-orang yang datang ke sini, mereka benar-benar ingin mengubah hidup mereka.”
Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa di balik setiap pemain hebat, ada kisah perjuangan yang luar biasa. Kisah-kisah para pengungsi ini tidak hanya menginspirasi di lapangan hijau, tetapi juga memberikan harapan bagi jutaan orang yang masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Sepak bola sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah bahasa universal yang bisa menyatukan manusia dari berbagai latar belakang.