SkorBola.web.id - Di balik gemerlap Piala Dunia 2026, terdapat sebuah cerita yang sangat mengharukan dari sebuah negara yang tidak pernah bermain di turnamen ini. Bangladesh, dengan populasi lebih dari 170 juta jiwa, memiliki basis penggemar Argentina dan Brasil yang begitu fanatik hingga nyaris 20 persen traffic ke live blog The Guardian untuk pertandingan pembuka Argentina vs Aljazair berasal dari negara ini.
Sebuah negara tanpa timnas di Piala Dunia, namun dengan hati yang terpaut kuat pada dua negara Amerika Selatan tersebut.
“Aktor-aktor besar ini muncul, dan mereka mengalahkan negara-negara yang pernah menjajah sebelumnya. Dalam sebuah pertandingan sepak bola, itu sesuatu yang pasti dimainkan di hati orang-orang,” ungkap Onyx Chowdhury, seorang warga keturunan Bangladeshi yang tinggal di Long Island, New York.
Akar Kolonialisme dan Perjuangan
Cinta Bangladesh terhadap Brasil dan Argentina tidak muncul tanpa sebab. Setelah kemerdekaan dari Pakistan Barat pada 1971, masyarakat Bangladesh mulai mengidentifikasi diri dengan Brasil sebagai sesama negara yang pernah dijajah dan bangkit dari keterbatasan sumber daya.
“Mereka seperti kami. Mereka miskin, tidak punya sumber daya yang hebat, tapi masih bisa membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya,” kata Mehedi Farhana, seorang apoteker yang mendukung Brasil sejak kecil.
Kisah Pelé menjadi inspirasi. Farhana bahkan mempelajari perjuangan Pelé dari kemiskinan saat masih di bangku kelas tiga melalui buku teks sejarah tahun 1980-an. Pada generasi yang lebih tua, Brasil menjadi pilihan utama berkat warisan Pelé dan timnas Selecao era 1970-an.
Argentina Memasuki Hati Bangladesh
Tahun 1986 menjadi titik balik. Piala Dunia Meksiko menjadi turnamen pertama yang disiarkan secara langsung berwarna oleh stasiun televisi milik negara BTV. Dan peristiwa yang paling menggemparkan? Kemenangan Argentina atas Inggris di perempat final.
“Kami mengalahkan negara yang pernah menjajah kami selama hampir 200 tahun,” begitu yang dirasakan jutaan warga Bangladesh saat itu. Gol “Tangan Tuhan” Maradona ke gawang Inggris menjadi kenangan abadi yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Yang menarik, Piala Dunia 1986 digelar saat Bangladesh sedang dalam masa darurat militer. Ibrahim Chowdhury, seorang jurnalis dan aktivis, terpaksa bersembunyi dari kejaran polisi sambil menonton pertandingan melalui televisi. “Semua pergerakan politik membeku selama Piala Dunia. Itu momen yang sangat berkesan,” kenangnya.
Fandom yang Hidup di Diaspora
Di Amerika Serikat, komunitas Bangladeshi mempertahankan kecintaan mereka pada Argentina dan Brasil melalui watch party dan liga olahraga komunitas. Bangladeshi American Sports League yang didirikan pada 2018 di Paterson, New Jersey, menampilkan ratusan pemain usia 14-35 tahun yang mayoritas mendukung Argentina atau Brasil.
Onyx Chowdhury, yang berusia 40 tahun, tidak ragu mewariskan kecintaannya pada Argentina kepada putranya yang baru berusia satu tahun. Ia rutin mendandani si kecil dengan jersey Argentina. “Melalui fandom, ada semacam koneksi ke tempat asal Anda,” ujarnya.
Ibrahim Chowdhury, 65 tahun, mewujudkan mimpinya dengan menjadi relawan penyambut di Piala Dunia 2026. “Saya memenuhi impian seumur hidup saya,” kata jurnalis veteran itu dengan bangga.
Simbolisme yang Mendalam
“Seperti sebuah emosi bagi orang Bangladesh. Mereka tidak melihat Brasil atau Argentina sebagai tim yang berbeda. Jika Anda berbicara dengan mereka, itu lebih seperti ‘kami’,” jelas Monsur Latif, sekretaris liga olahraga Bangladeshi di AS.
Di Brahmanbaria, sebuah kota kecil di Bangladesh, seorang penggemar super fan cat seluruh rumahnya dengan warna hijau-kuning bendera Brasil dan mural para pemain bintang.
Di kampung kelahiran Shahidul Partha di Kulkandi, pada awal 2000-an, lebih dari 80 orang berkumpul di halaman rumah keluarganya untuk menonton Piala Dunia di televisi 14 inci hitam-putih yang ditenagai baterai – satu-satunya televisi di area tersebut.
Dukungan Bangladesh untuk Brasil dan Argentina bukan sekadar hobi olahraga. Ini adalah ikatan emosional yang mendalam dengan sejarah bersama, sentimen anti-kolonialisme, dan kebanggaan nasional yang terus hidup lintas generasi – meskipun negara mereka sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di panggung Piala Dunia.