SkorBola.web.id - Carlo Ancelotti sedang menuliskan babak baru dalam karier gemilangnya sebagai pelatih. Manajer berkebangsaan Italia itu kini menanggung beban sejarah berat: mengakhiri penantian 24 tahun Brasil untuk kembali merebut trofi Piala Dunia, dan menjadikannya manajer pertama dalam sejarah yang mampu menjuarai Piala Dunia di era modern setelah meraih segalanya di level klub.
Jelang laga penentu Grup C melawan Skotlandia di Piala Dunia 2026, seluruh media Brasil tidak menanyakan tentang sang lawan melainkan soal skuadnya yang bertabur bintang. Konferensi pers Ancelotti di Miami Stadium yang dijadwalkan pukul 19:15 waktu setempat, baru dimulai lebih dari satu jam kemudian karena ruangan press room yang dikonversi dari ruang ganti dipenuhi ratusan jurnalis Brasil.
Dua nama besar menjadi fokus utama: Neymar dan Vinicius Junior. Neymar, top skor sepanjang masa Brasil dengan 79 gol, kembali ke skuad selepas absen hampir tiga tahun. Pemain berusia 34 tahun itu sempat melewatkan laga pembuka imbang 1-1 melawan Maroko akibat cedera, namun Ancelotti memastikan ketersediaannya.
“Dia sudah siap. Dia berlatih sangat baik minggu ini. Dia fit dan siap bermain. Kami sangat senang. Dia pemain berkualitas tinggi. Dia bisa bermain setengah waktu atau 90 penuh. Sikapnya sangat baik,” ujar Ancelotti.
Di sisi lain, Vinicius Junior menjadi harapan terbesar Brasil untuk mengulangi dampak seperti Messi atau Mbappe. Pemain Real Madrid itu sudah mencetak dua gol dari dua pertandingan, termasuk gol penyama kedudukan yang fantastis saat Brasil tertinggal dari Maroko.
“Ambil semua pemain untuk beradaptasi dengan gaya permainan tim. Kami perlu memanfaatkan Vini meskipun kami punya pemain fantastis lainnya. Kami punya pengalaman, kualitas, dan tenaga,” kata Ancelotti.
Bersama Brasil, Ancelotti menapaki jalan yang akan mengukuhkan statusnya sebagai manajer terbesar sepanjang masa. Pemenang lima trofi Liga Champions, satu-satunya manajer yang pernah menjuarai kompetisi liga di lima liga top Eropa, kini membidik gelar Piala Dunia yang akan menggenapi koleksinya.
Yang menarik, terakhir kali Brasil mengalami penantian panjang seperti ini, mereka justru mengakhirinya di Amerika Serikat melalui Piala Dunia 1994. Kala itu, Romario dan Bebeto menjadi pahlawan. Kini, di Piala Dunia 2026 yang juga digelar di AS, Ancelotti berambisi menciptakan penutup babak yang serupa namun dengan nama yang berbeda.
Tentang Skotlandia, lawan berikutnya, Ancelotti tidak mau meremehkan. “Pertandingan sulit, seperti biasa. Skotlandia punya kualitas, mereka pejuang, mereka bermain sangat terorganisir. Mereka punya pemain berpengalaman seperti McTominay dan McGinn. Mereka akan banyak melakukan crossing, kami perlu mengontrol pertandingan,” pungkas Ancelotti.
Dengan rekor cuma dua tembakan on target dari dua laga fase grup, Skotlandia memang menghadapi tantangan berat melawan Brasil. Namun di Piala Dunia, segalanya mungkin terjadi.