SkorBola.web.id - Penyerang timnas Jerman Kai Havertz buka suara soal peran sering disalahpahami dan bagaimana dirinya menjadi kunci kampanye Piala Dunia 2026 Der Panzer.
Kai Havertz memang sosok yang selalu memancing perdebatan. Di lapangan, gerakan-gerakannya terlihat tanpa arah. Berlari ke ruang kosong yang seolah tak berguna, memotong jalur yang tak terlihat mengancam. Tapi menurut pemain Arsenal berusia 26 tahun itu, justru di sinilah seni sepak bolanya.
“Haru ada yang tidak pernah tahu di mana saya berada, ke mana saya bergerak, apa rencana saya, atau di mana saya akan berada di momen tertentu,” ungkap Havertz dalam wawancara eksklusif dengan The Guardian. “Itulah yang paling menakutkan bagi para bek. Saya mencoba menjadi seperti hantu bagi mereka.”
Havertz juga menjelaskan filosofi di balik lari-lari yang sering dianggap sia-sia oleh penonton awam. “Saya juga membuat lari yang saya tahu kadang terlihat tanpa tujuan, tapi sebenarnya saya sedang menciptakan ruang untuk pemain-pemain yang datang di belakang saya,” jelasnya.
24 Gol dalam 60 Caps
Statistik Havertz untuk Jerman memang mengesankan. Dengan 24 gol dari 60 caps, striker serba bisa ini sudah menjadi pilihan utama Julian Nagelsmann di lini depan. Meski sempat bermain sebagai winger, gelandang, striker tengah, bahkan bek kiri (di mana ia pernah mencetak gol untuk Jerman), Havertz menegaskan dirinya siap dimainkan di posisi mana pun.
Perjalanan Havertz ke Piala Dunia 2026 bukan tanpa rintangan. Setahun terakhir ia harus melewati operasi lutut dan cedera hamstring. Namun semangat untuk membayar frustrasi masa lalu justru membara lebih kuat dari sebelumnya.
“Tahun terakhir setengah berjalan buruk bagi saya,” akui Havertz. “Dambaan untuk menyingkirkan frustrasi lama itu membakar saya.”
Jerman Patah Kutukan Gagal Grup
Kampanye Piala Dunia 2026 menjadi momentum penting bagi Jerman. Setelah tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022, tim berjuluk Der Panzer kini berhasil lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya sejak 2014.
“Kami tahu punya kewajiban untuk tidak gagal lagi lebih awal. Kami adalah Jerman. Tapi sekarang turnamen ini benar-benar baru dimulai,” tegas Havertz.
Havertz juga membandingkan atmosfer skuad saat ini dengan kegagalan di Qatar 2022. “Qatar sama sekali tidak sukses bagi kami sebagai tim dan bagi saya pribadi. Ada energi berbeda di skuad kami sekarang. Kami memancarkan kegembiraan bermain yang sesungguhnya. Kami banyak bergerak, bermain ofensif, dan menciptakan peluang mencetak gol. Dan kami bisa bangkit setelah kebobolan.”
Kritik dari Tanah Air
Seperti banyak pemain Jerman yang merantau ke luar negeri, Havertz kerap menjadi sasaran kritik media domestik. “Mungkin karena saya tidak bermain di Bundesliga,” katanya. “Sering dikatakan tentang saya: ‘Havertz tidak mencetak gol lagi, dia tidak berguna!’ Dan ketika saya mencetak gol, mereka bilang: ‘Yah, memang seharusnya begitu, sudah waktunya!’”
Tapi Havertz tidak membiarkan kritik itu mengganggunya. “Saya sadar ada debu tentang saya yang terlalu santai atau bahasa tubuh saya salah. Itu selalu muncul ketika saya tidak bermain dengan baik. Tapi saya tipe orang yang tidak terlalu memikirkannya,” ujarnya.
Meski terlihat tenang dari luar, Havertz mengakui bahwa tekanan tetap terasa. “Saya tahu itu tidak terlihat dari luar, tapi saya merasakannya. Sebelum final Liga Champions, atau di Piala Dunia. Atau sebelum adu penalti. Saya butuh ketegangan itu untuk tetap fokus.”
Jerman akan melanjutkan kampanye Piala Dunia 2026 di babak 32 besar dengan modal optimisme tinggi dan seorang “hantu” yang siap menghantui pertahanan lawan.